Terapi Penyubur

Jumat, 30 Mei 2008      0 komentar


Demi Kehadiran Sang Jabang Bayi

ANAK adalah idaman setiap keluarga bahagia. Tanpa kehadirannya, kehidupan rumah tangga terasa hampa. Nah, salah satu upaya untuk memungkinkan timbulnya kehamilan adalah dengan terapi penyubur, yakni lewat faktor makanan.

Sebelum menjalani terapi ini, persiapkan diri Anda sebaik mungkin. Karena secara teoritis, kehamilan sangat ditentukan oleh empat faktor yang saling berkait, yakni psychoimmuni-neuro-endicrnology (PINE), yakni faktor kejiwaan atau psikis yang bersangkutan (psikologis), serta kekebalan tubuh (imunologis).

Langkah pertama yang harus dilakukan pasutri adalah membenahi aspek kejiwaan dan kondisi sarafnya. Bersikaplah sabar, tenang dan santai atau disebut sebagai terapi pembuka kunci. Dengan bersikap santai, hormon kelamin suami maupun istri dapat bekerja baik. Selain dengan berserah diri pada Tuhan dan melakukan rekreasi, pengenduran saraf dapat pula ditempuh melalui terapi gizi. Lakukan terapi ini kurang lebih 2-3 siklus haid, untuk membangun fungsi hormon kelamin. Sebaiknya, Anda dan suami menjalani secara bersama-sama.

Konsumsilah makanan atau minuman yang mengandung triptofan, yakni salah satu asam animo esensial yang dapat memacu produksi serotonin, yang bersifat menenangkan saraf. Antara lain nasi atau susu (sebaiknya rendah lemak) dan keju (hindari bila Anda penderita penyakit hipertensi, ginjal atau batu ginjal, hiperkolesterolemia dan gangguan pembuluh darah).

Disarankan minum susu hangat secara teratur sebelum berangkat tidur. Imbangi dengan konsumsi makanan sumber magnesium dan kalsium yang terdapat pada sayuran berdaun hijau (sawi, bayam, dan sebagainya), brokoli, udang kering, apel, tahu dan tempe. Hindari minuman ringan selama menjalani terapi ini agar tidak menganggu penyerapan kalsium. Sebaiknya, cukupi konsumsi bahan makanan sumber vitamin C, terutama buah-buahan segar yang dapat memacu efisiensi penyerapan kalsium maupun magnesium.

Kacang-kacangan juga termasuk di antaranya, yang juga menyumbang vitamin B kompleks. Vitamin itu sangat berperan dalam pemulihan energi, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, memeprbaiki sistem reproduksi serta mengaktifkan hormon kelamin. Vitamin B komples juga terdapat dalam roti, kentang, sayuran berdaun hijau, ikan, hati, susu dan telur.

Sebagai pelengkap, Anda bisa minum jus sayuran secara teratur empat kali sehari; pagi, siang, sore dan malam hari masing-masing segelas. Setelah lewat masa terapi pembuka kunci, ramuan jus ini tetap bisa diminum sekaligus sebagai terapi penyubur.

Nah, setelah menjalani terapi ini, Anda bisa meneruskan ke tahapan terapi penyubur. Pola makan pada terapi pembuka kunci tetap bisa dijalankan, tapi harus dilengkapi dengan peningkatan asupan vitamin A. Vitamin A berperan dalam penyegaran sistem reproduksi, sehingga sel telur maupun sel sperma akan lebih siap untuk bersatu. Selain itu, vitamin A akan mempersiapkan membran mukosa rahim agar calon janin (zigot) bisa tertanam dengan baik di dinding rahim. Dengan begitu calon janin diharapkan dapat tumbuh terus menjadi janin dan bayi yang sehat.

Vitamin itu banyak terdapat sayuran berwarna hijau gelap (bayam, brokoli, daun ubi jalar, dan sebagainya), sayuran buah, sayuran umbi, dan buah-buahan berwarna orange, terutama wortel, tomat, pepaya, dan sebagainya. Ada baiknya Anda membatasi konsumsi bahan makanan sumber vitamin A yang kaya lemak jenuh atau kolesterol, seperti mentega dan kuning telur. Bagi sang suami, vitamin C (buah-buahan segar), vitamin E (taoge/kecambah) serta beberapa mineral mikro, khususnya seng (tiram dan kerang-kerangan, daging sapi, ayam, ikan, dan sebagainya), krom, mangan dan selunium adalah sumber makanan untuk meningkatkan kesuburan. Satu hal yang patut diperhatikan, makanan Anda sehari-hari harus tepat komposisi dan porsinya. Prinsipnya, memenuhi persyaratan Empat Sehat Lima Sempurna. Hanya saja, pilih susu rendah lemak atau tanpa lemak. Dan hindari makanan-minuman kalengan maupun yang mengandung kafein, minuman berakohol.

Agar terapi gizi memberikan hasil optimal, hubungan intim suami-istri (timsuis) hendaknya dilakukan pada saat tepat. Kehamilan hanya akan terjadi bila timsuis dilakukan bertepatan dengan saat pelepasan sel telur istri dari indung telur. Kapan? Perkiraannya dilakukan dengan menentukan rentang masa subur dari istri. Agar sel sperma dapat menangkap sel telur, timsuis hendaknya dilakukan setidaknya pada hari ke 10, 12, 14 dan ke 16. Itu merupakan tindakan berjaga-jaga agar jika sewaktu-waktu sel telur keluar dari indung telur akan selalu ada sepasukan sperma yang sudah siap menyergapnya. Jika Anda takut lolos, timsuis bisa dilakukan setiap hari sejak hari ke-10 sampai hari ke-16.

Setelah itu, tetaplah berusaha, dan tunggulah tanda kehadiran sang jabang bayi.


(CN03)